Menggali Cerita Di Pasir Gintung

Pasir gintung

Pasir gintung

 

Mereka sudah dibayar sejak lama. Sampai menahun sudah tidak merasakan uang hasil keringatnya. 15 sampai 20 kg tiap hari sudah menjadi milik tengkulak. Penderes gula kelapa hanya pasrah dililit hutang. Nasib memang sudah seperti taktir, tak bisa diubah.

Gambaran kisah itu bukanlah cerita fiksi. Petani di desa Ciliang rata-rata bernasib sama. Mereka memiliki profesi cukup mulia. Penghasil gula merah. Kemuliaan mereka terpenggal oleh sistem ekonomi yang memaksa mereka tunduk pada pengatur harga, tengkulak.

Kami menelusurinya dari para penderes. Berdialog dengan mereka di tengah perbukitan Pasir Gintung. Memalui acara Camping Pemuda Tani Sabalad, kami mendapat banyak kesempatan mendengar cerita dari Pak Samsu dan  bu Samsu. Sepasang kekasih tua ini menuturkan kisah hidup mereka dan nasib para penderes.

Pada mulanya, kami hanya mengisi waktu liburan. Bagi kami yang sehari-hari bergiat di komunitas akhir minggu adalah peluang untuk berkumpul bersama. Selain kegiatan pendidikan dan pelatihan, pembinaan komunitas pelajar, workshop seni dan budaya, bimbel bahasa, kami juga bertani dan berkemah. Akhir minggu di mangsa ke 9 menurut Pranata Mangsa sejenis primbon yang di pakai oleh para petani lokal, kami berinisiatif berkemah sambil menggali wawasan pertanian. Dari pak Samsu dan bu Samsu kami betul-betul mendapat banyak wawasan.

Ihwal Pak Samsu sebagai ketua RT di Pasir Gintung, menarik kami dalam forum diskusi yang di gelar pada (23/31) di rumahnya. Lelaki kelahiran 1947 dan bertani sejak tahun 1964 itu mendatangi Pasir Gintung yang kala itu masih berupa hutan. Sejak tahun 1980 ia nekad membuka lahan dan menanam ratusan pohon kelapa dan kayu-kayuan. Padahal bagi warga sekitar hutan itu cukup angker. Pak samsu berani bermukim karena ia tidak memiliki lahan sebagaimana warga pada umumnya.

Bagi Pak Samsu, kemiskinan yang turun temurun dan menimpa dirinya membuatnya tegar bertahan. Di masa mudanya ia berharap mengubah keadaan . ia memilih menanam hingga pada akhirnya pohon-pohon kelapa yang pada awal 1980an ditanam hasilnya terasa hingga kini. Pak Samsu pun mematenkan dirinya sebagai penderes.

Hanya saja, tanah yang ia buka adalah tanah titsara yang di atur oleh pemerintah desa Ciliang. Pak Samsu harus melepas tanah yang telah ditanaminya kepada warga lain yang hendak menirunya menghuni Pasir Gintung. Ia dengan sukarela dan tidak mengungkit jasanya. Bahkan ia mengakui, justru setelah sekian lama hidup, keikhlasan baginya yang membuat manusia dekat dengan pencipta.

Kita hanya di titipkan. Seperti dalam pepatah “kuasa Gatot Kaca, di tangan dalang jaya, di peti tak berdaya” ia sadar diri hanyalah ridho tuhan yang bermula dan berakhir berkat kehendak sang pencipta.

Dari pak Samsu, kami para peserta asik belajar, bukan hanya tentang petani seperti dirinya. Tetapi tentang ekonomi, pemerintah bahkan tentang religiusitas. Di akhir kemah setelah kami mandi bersama di sungai Cigede dan menyantap liwet, kami berkomitmen menggelar acara serupa di tiap akhir minggu agar kami bisa menggali persoalan hidup dan kehidupan.

 

 

Latest posts by sabalad (see all)

Share

Menggali Cerita Di Pasir Gintung

Discussion

Leave a Reply