MENDESAK DAMAI

Oleh : Jujun Junaedi

Hari ini berdamai besok bermusuhan, besoknya lagi huru hara, besoknya lagi demo masalah agama, besoknya lagi apa menggugat tukang cendol yang gulnanya kurang manis, terus santennya sedikit ? Semua pembicaraan diatas terangkum dalam cerita yang mengisahkan polemik bangsa ini dan dunia. Mungkin kita sempat berpikir kenapa orang bisa bermusuhan hanya karena seorang wanita, bukankah itu konyol. Tapi serius itu sebenarnya adalah permasalahan yang cukup pelik mengingat ini adalah urusan cinta, tapi aku enggak bakal bicara msalah cinta karena itu terkesan mendramatisir kalua untuk sebuah buku perdamaian.

Menciptakan perdamaian bukan hanya masalah perang yang harus dihentikan, tapi lebih kepada kesadaran diri masing-masing untuk mulai bergerak menghargai perbedaan yang sudah ada. Mendesak damai adalah hal yang mesti dilakukan untuk mulai merubah pemikiran apatis tentang perbedaan. Pertanyaannya adalah kapan kita mau mulai mendesak damai ? siapa yang harusnya memulai perdamaian kalua bukan diri kita masing masing. Melepaskan ego, sadar ruang dan waktu, toleransi, menghargai adalah langkah awal memulai itu.

Pengalaman mengenai perdamaian sebenarnya sudah dirasakan setiap orang yang pernah merasakan konflik dan terselasaikan. Tapi anehnya tidak ada yang menyadari itu, para elit di luar sana malah membagikan konfilk yang dia punya kepda khalayak yang pada akhirnya membuat semua menjadi runyam. Sama halnya dengan seorang gembala yang mengumpulkan kambing-kambing putih dan mulai mencari kambing hitam didalamnya.

Mendesak damai adalah sebuah tindakan yang harus diambil sebgai bangsa yang menjunjung tinggi perbedaan katanya. Spirit perdamaian perlu digalakan di setiap golongan masyrakat, anak kecil, anak muda, orang tua, bahkan tua Bangka. Bayangkan ketika kita anak muda yang tengah bersemangat mencari jati diri, mereka anak muda harus menyadari kalau mereka akan menghadapi perbedaan agama, suku, warna kulit dan perbedaan lainnya. Munculnya diskriminasi disebabkan karena kurangnya pengalaman mengenai keberagaman.

Salah satu contoh jenjang pendidikan perkuliahan adalah tempan dimana kita menemukan keberagaman itu, tapi apakah kita akan menunggu selama 12 tahun hanya untuk merasakan keberagaman di negeri ini ? itupun kalau kalian kulih di universeita diluar daerah sendiri dan bersetatus negeri. Bayangkan jika selama hidup di dunia kamu hanya punya teman dari satu desa tempatmu tinggal saja. Betapa sempit hidupmu itu. Hidup di negara dengan perbedaan tapi tak pernah merasakan perbedaan itu sendiri sungguh miris.

Mendesak damai melalui edukasi perdamaian di kelas- kelas itu tidak cukup, perlu ada tindakan nyata dan langsung dirasakan oleh seluruh manusia indonesia. Saya ambil contoh adalah kelas multikultural yang ada di Smk Bakti Karya Parigi, Kabupaten Pangandaran. Sekolah tersebut menyelenggarakan sebuah pendidikan yang siswanya tidak hanya berasal dari daerah pangandaran tetapi dari 19 Provinsi yang ada di indonesia. Sungguh menangkjubkan memang ditengah konflik perbedaan yang semakin memanas di indonesia, sekolah ini menjadi angin segar dengan melakukan tindakan nyata untuk menciptakan genarasi perdamaian.

Latest posts by sabalad (see all)

Share

MENDESAK DAMAI

Discussion

Leave a Reply